Minggu, 18 Desember 2016

Update status? M I K I R D U L U


Bijak mengutarakan opini?

Pernah dengar soal keributan di media sosial yang terjadi akibat adu argumen antara seorang pembuat status dengan komentator?

Aha, ada banyak ya kasus demikian. Geli gak sih? Banget kan?

Beberapa orang ngutarain isi kepalanya dengan terlalu gamblang. Terlalu jelas dan terang-terangan. Well, mengutarakan mendapat itu gak salah. Gak salah sama sekali. Tapi kalo sampe berujung keributan, sindir-sindiran, bahkan sampe janjian ketemuan di suatu spot buat adu jotos, apakah kita masih bakal bilang “gak salah”?

Sebagai pengguna setia media sosial, saya juga banyak nemuin kasus demikian. Terkadang di kelas, beberapa teman ngeriung/? di satu tempat, rame-rame balesin komentar orang di Facebook yang udah nyakitin perasaan teman mereka. But when we look closer, apa yang sebenarnya lagi mereka perbuat adalah, maki-maki orang!

Cyber bullying is real.

Bukan bermaksud ghibah (toh kita mau ambil pelajarannya), yang sebenernya sedang mereka lakukan itu adalah ngebelain teman mereka yang sebetulnya memang salah.

Tapi ‘kan belain temen itu gak salah.

Aha, that’s right.

Gak ada yang salah dari mempertahankan solidaritas. Tapi, sebagai makhluk yang berakal, semestinya kita bisa dong liat-liat apakah hal ini boleh dilakukan, apakah hal itu boleh dilakukan.

Usut punya usut, teman mereka ini awalnya update status dengan kata-kata yang agak errr (if you know what I mean). Statusnya tergolong gak sopan karena mengandung kata-kata kotor dan mencemarkan nama baik seseorang. Dengan kata lain, kita bisa bilang si pembuat status ini bersalah karena TERLALU GAMBLANG dalam mengutarakan isi pikirannya. Kemudian status tersebut dikomentari oleh seseorang dengan celetukan yang lumayan pedas, atas dasar alasan bikin sakit mata dibacanya. Kata-katanya terlalu kasar. Hoho. And then, terjadilah yang namanya keributan di kolom komentar. War of idiots.

Logikanya nih, pemirsahh.

Di tempat di mana mengutarakan pendapat itu adalah hal yang legal, semestinya tiap individu sadar, kalau pendapatnya itu bisa saja dipatahkan oleh pendapat orang lain.

Misal, seseorang lagi gundah gulana menunggu kabar dari si tercinta. Ditelepon gak aktif, dikirimin SMS gak masuk2. Pusing kan ya. Kemudian doi update status, mengutarakan betapa sedihnya dia nunggu kabar. Akhirnya tanpa sadar (atau bahkan sadar) dia curhat panjang lebar di statusnya itu.

And then there is this person, lagi asik-asik scroll down di newsfeed, eh baca status dramatis si orang yang lagi galau. Iseng2 doi komen, “Lebay deh”, because it really is!

Merasa gak terima, si pembuat status yang emang lagi gak stabil secara emosional amarahnya bocor dari ubun-ubun. Dibalaslah komentar tersebut dengan begitu sewotnya.

“Suka-suka gue dong! Pesbuk gue ini!”

Yaaak, dugaan kita semua benar. Setelah itu terjadi sebuah keributan karena sama2 egois, sama2 merasa punya hak angkat bicara.

Justru di sini masalahnya. Kita semua—iya kita semua; saya, kamu dan mereka—punya hak untuk mengutarakan pendapat. Tapi bukan berarti dengan adanya hak tersebut kita jadi bisa semaunya.

Liat orang pake bedak ketebelan, update.

Liat orang di giginya ada cabe, update.

Liat orang kuncirannya miring, update.

Galau, curhat. Aib tanpa sadar dibuka. Kejelekan saudara tanpa sadar disebar.

Atau kadang isi update-an cuma jokes murahan yang menyinggung pihak tertentu.

Folks, kita ini pernah sekolah kan? Kita ini golongan terpelajar kan? Kita pernah dapet pelajaran moral di sekolah kan? Orangtua ngedidik kita buat jadi anak baik kan?

Sebenernya yaak, sebenernya.... Saya ini tipikal orang sarkastik juga. Tapi untungnya gak sampe suka update-update kasar. Kalo emosi lagi muncak kan sensitif tuh, usahain jangan buka media sosial. Karena bakal makin sensitif. Gampang kan?

Itu aja sih. Pokoknya gini aja; sebelum update atau nge-share sesuatu di medsos, INGET REPUTASI JANGKA PANJANG.

Satu lagi crap entry dari saya.

Thank you for wasting your time reading this.


First Crap Entry

Hello, world!
Aku cuma orang yang gak terlalu bisa basa-basi, apalagi pakai kata-kata yang manis manja.
Gak bisa. Meledak tawa ini. Jijik sendiri.

Tapi meskipun begitu, sebagai orang yang pada dasarnya lumayan terus terang, tentunya aku perlu wadah dong buat menuangkan ide-ide, meskipun terkadang overly trashy. Dan itu dia tujuan utamaku ngebuat blog ini. Aku ini buruk dalam hal mengekspresikan diri. Sangat. Yang namanya curhat itu hal paling susah dilakukan nomor dua setelah berhenti males-malesan. /kena gampar/
Tapi pokoknya aku tetap butuh wadah. Karena ada sangat banyak crap yang sangat mengganggu kalo cuma dipendam atau dijadikan bahan observasi dadakan begitu kebangun dari tidur pas tengah malem.

Poinnya di sini (Kan, kalo gak langsung to the point jadinya ngalor ngidul kayak paragraf sebelumnya), ini entri pertamaku.

Jadi,
HAHAHAHA.

HA.

HAHA.

(Apa lo?)

Pokoknya...,
aku siap menyampahi blog ini!