Bijak
mengutarakan opini?
Pernah
dengar soal keributan di media sosial yang terjadi akibat adu argumen antara
seorang pembuat status dengan komentator?
Aha,
ada banyak ya kasus demikian. Geli gak sih? Banget kan?
Beberapa
orang ngutarain isi kepalanya dengan terlalu gamblang. Terlalu jelas dan
terang-terangan. Well, mengutarakan mendapat itu gak salah. Gak salah sama
sekali. Tapi kalo sampe berujung keributan, sindir-sindiran, bahkan sampe
janjian ketemuan di suatu spot buat adu jotos, apakah kita masih bakal bilang
“gak salah”?
Sebagai
pengguna setia media sosial, saya juga banyak nemuin kasus demikian. Terkadang
di kelas, beberapa teman ngeriung/? di satu tempat, rame-rame balesin komentar
orang di Facebook yang udah nyakitin perasaan teman mereka. But when we look
closer, apa yang sebenarnya lagi mereka perbuat adalah, maki-maki orang!
Cyber
bullying is real.
Bukan
bermaksud ghibah (toh kita mau ambil pelajarannya), yang sebenernya sedang
mereka lakukan itu adalah ngebelain teman mereka yang sebetulnya memang salah.
Tapi
‘kan belain temen itu gak salah.
Aha,
that’s right.
Gak
ada yang salah dari mempertahankan solidaritas. Tapi, sebagai makhluk yang
berakal, semestinya kita bisa dong liat-liat apakah hal ini boleh dilakukan,
apakah hal itu boleh dilakukan.
Usut
punya usut, teman mereka ini awalnya update status dengan kata-kata yang agak
errr (if you know what I mean). Statusnya tergolong gak sopan karena mengandung
kata-kata kotor dan mencemarkan nama baik seseorang. Dengan kata lain, kita
bisa bilang si pembuat status ini bersalah karena TERLALU GAMBLANG dalam
mengutarakan isi pikirannya. Kemudian status tersebut dikomentari oleh
seseorang dengan celetukan yang lumayan pedas, atas dasar alasan bikin sakit
mata dibacanya. Kata-katanya terlalu kasar. Hoho. And then, terjadilah yang
namanya keributan di kolom komentar. War of idiots.
Logikanya
nih, pemirsahh.
Di
tempat di mana mengutarakan pendapat itu adalah hal yang legal, semestinya tiap
individu sadar, kalau pendapatnya itu bisa saja dipatahkan oleh pendapat orang
lain.
Misal,
seseorang lagi gundah gulana menunggu kabar dari si tercinta. Ditelepon gak
aktif, dikirimin SMS gak masuk2. Pusing kan ya. Kemudian doi update status,
mengutarakan betapa sedihnya dia nunggu kabar. Akhirnya tanpa sadar (atau bahkan
sadar) dia curhat panjang lebar di statusnya itu.
And
then there is this person, lagi asik-asik scroll down di newsfeed, eh baca
status dramatis si orang yang lagi galau. Iseng2 doi komen, “Lebay deh”,
because it really is!
Merasa
gak terima, si pembuat status yang emang lagi gak stabil secara emosional
amarahnya bocor dari ubun-ubun. Dibalaslah komentar tersebut dengan begitu
sewotnya.
“Suka-suka
gue dong! Pesbuk gue ini!”
Yaaak,
dugaan kita semua benar. Setelah itu terjadi sebuah keributan karena sama2
egois, sama2 merasa punya hak angkat bicara.
Justru
di sini masalahnya. Kita semua—iya kita semua; saya, kamu dan mereka—punya hak
untuk mengutarakan pendapat. Tapi bukan berarti dengan adanya hak tersebut kita
jadi bisa semaunya.
Liat
orang pake bedak ketebelan, update.
Liat
orang di giginya ada cabe, update.
Liat
orang kuncirannya miring, update.
Galau,
curhat. Aib tanpa sadar dibuka. Kejelekan saudara tanpa sadar disebar.
Atau
kadang isi update-an cuma jokes murahan yang menyinggung pihak tertentu.
Folks,
kita ini pernah sekolah kan? Kita ini golongan terpelajar kan? Kita pernah
dapet pelajaran moral di sekolah kan? Orangtua ngedidik kita buat jadi anak
baik kan?
Sebenernya
yaak, sebenernya.... Saya ini tipikal orang sarkastik juga. Tapi untungnya gak
sampe suka update-update kasar. Kalo emosi lagi muncak kan sensitif tuh,
usahain jangan buka media sosial. Karena bakal makin sensitif. Gampang kan?
Itu
aja sih. Pokoknya gini aja; sebelum update atau nge-share sesuatu di medsos,
INGET REPUTASI JANGKA PANJANG.
Satu
lagi crap entry dari saya.
Thank
you for wasting your time reading this.